WhatsApp Image 2017-07-31 at 6.43.48 PM

Pelatihan Jahe dan Desa Maju yang Mandiri Melalui Produk Lokal Unggulan

Banggai (kpa.or.id) – Mempunyai produk unggulan yang mampu memberi kontribusi yang nyata bagi penduduknya merupakan salah satu faktor penentu kesejahteraan bagi suatu wilayah dan desa. Tentunya, produk unggulan tersebut tidak serta merta ada dengan sendirinya. Walaupun setiap daerah memilki ciri dan kekhasan masing-masing, namun tanpa manajemen dan sumber daya manusia yang baik, kontribusinya tidak akan dirasakan secara nyata oleh masyarakat

Menyadari hal tersebut, Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) bersama KPA Wilayah Sulteng dan serikat/organisasi yang berada di dua desa yakni Desa Piondo dan Desa Bukit Jaya, Kecamatan Toili Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah menyelenggarakan pelatihan jahe sebagai upaya memaksimalkan kontribusi dari sumber agraria yang ada di desa untuk kesejahteraan.

KPA yang diwakili Staf Departemen Penguatan Organisasi, Ferry Widodo pada kesempatan ini coba menggandeng Zainal Monoarfa dari Terminal Benih Gorontalo dan Syam Asinar Radjam dari Institut Agroekologi Indonesia (INAgri) sebagai pemberi materi untuk pelatihan ini berdasarkan pengalaman mereka masing-masing

Berlangsung selama tujuh hari dari tanggal 20-27 Juli 2017. Pelatihan tersebut berlangsung di dua tempat yakni Desa Piondo selama 4 hari dan 3 hari di Desa Bukit Jaya

Menariknya, semua peserta yang hadir dari dua desa ini ialah para perempuan yang merupakan anggota dari Serikat Petani Piondo (SPP) dan Serikat Petani Bukit Jaya (SPBJ) yang tergabung dalam koperasi perempuan organisasi masing-masing. Selain mendirikan organisasi, dua serikat ini juga mendirikan koperasi perempuan. SPP memiliki Koperasi Perempuan Harapan Piondo, sedangkan SPJB mendirikan Koperasi Wanita Jaya.

Setiap hari tak kurang 25 peserta pelatihan baik di desa Piondo dan di desa Bukit Jaya dengan semangat mengikuti pelatihan tersebut.

Melalui proses pelatihan ini, para peserta berhasil menghasilkan beragam produk turunan dari rimpang jahe. Sebagian berasal pengetahuan baru yang dibawa oleh para pendamping yang khusus memberikan materi tentang jahe, mulai dari produksi hingga pemasaran. Sebagian lagi diambil dari kebiasaan dan pengalaman tradisi lokal yang sudah berlangsung sejak lama.

Beberapa produk yang dihasilkan diantaranya, jahe merah bubuk, sabun jahe, minyak urut jahe, biskuit jahe, tingting jahe, dan sagon jahe serta beberapa produk bubuk siap konsumsi seperti kunyit bubuk, temu lawak bubuk dan kencur bubuk.

Dua produk seperti tingting jahe dan sagon jahe biasa dibuat oleh warga desa Piondo pada saat hari raya Idul Fitri sebagai snack lebaran.

Berlimpah Namun Minim Kontribusi

Jahe menjadi salah satu komoditas pertanian yang banyak ditanam di dua desa ini dikarenakan dua tahun lalu harga jahe yang dijual kepada tengkulak harganya mencapai 20 ribu – 50 ribu per kg. Inilah yang menyebabkan banyak sekali petani di dua desa tersebut yang menanam jahe sebagai komoditas utama.

Hampir semua petani desa Piondo dan Desa Bukit Jaya berani membeli bibit jahe merah yang saat itu dipasarkan dengan harga mahal. Ada yang sampai jual sapi untuk membeli bibit jahe merah.

Akhir 2015, harga jahe pelan-pelan mengalami penurunan dan puncaknya pada tahun 2016 harga jahe anjlok ke angka 5.000 per kg. Kondisi yang akhirnya berimbas pada pendapatan petani di dua desa tersebut akibat harga produksi yang lebih tinggi dari harga jual.

Warga yang terdesak karna kondisi akhirnya haru rela jahenya dibayar Rp. 5000,- Kg. Sementara warga yang tidak mau mengalami kerugian lebih memilih menyimpan hasil panen di rumah sembari menunggu harga jahe kembali naik.

Persoalan yang memberatkan masyarakat di dua desa ini sekarang ialah soal keberlimpahan jahe akibat terkendala harga jual yang rendah. Masyarakat lebih memilih menyimpan hasil panen mereka daripada menjual dengan harga murah. Kondisi ini semakin lama tentu berpengaruh bagi stabilitas ekonomi masyarakat karna tidak memberi kontribusi nyata dan siginifikan.

Berlatar belakang kondisi itulah, akhirnya dua serikat petani di dua desa ini mencoba menggerakkan kembali perekonomia masyarakat dengan mendirikan koperasi. SPP di Piondo mendirikan Koperasi Sinar Harapan Perempuan Piondo dan SPPJB mendirikan Koperasi Wanita Jaya di Bukit Jaya dengan tujuan agar jahe tersebut kembali memberi manfaat dan kontribusi nyata bagi kesejahteraan warga di dua desa ini.

Dari Konflik Agraria Menuju Ekonomi Berbasis Komoditas Lokal Unggulan

Lahan yang sekarang ditanami jahe ini dulunya merupakan areal konflik antara warga Desa Piondo dan Bukit Jaya dengan PT. BHP yang merupakan anak perusahaan dari PT. Kurnia Luwuk Sejati (KLS). Berkat perjuangan yang terus-menerus dalam melawan perusahaan, akhirnya warga di dua desa ini berhasil menduduki kembali lahan tersebut untuk digarap. SPP telah berhasil menggarap sekitar 135 hektar, sedangkan SPJB berhasil menggarap di atas lahan 90 hektar.

Di sela-sela menunggu proses penyelesaian kasus sengketa lahan,  SPP dan SPBJ melalui koperasi perempuan mereka masing-masing terus bekerja untuk mempersiapkan rintisan usaha-usaha ekonomi produktif apabila lahan sengketa tersebut berhasil mereka klaim kembali secara legal. Dalam kerangka kerja yang lebih besar, apa yang dilakukan oleh dua serikat ini merupakan proses jalan menuju Desa Maju Reforma Agraria (DAMARA).

Jahe sendiri banyak ditanam di atas lahan yang digarap oleh SPJB, sementara di areal SPP tanamannya cukup beragam seperti nilam, kunyit, kakao, padi dan tanaman lainnya.

Usaha-usaha produktif semacam ini diharapkan berjalan dengan prinsip-prinsip keadilan agraria, keberlanjutan daya dukung ekologi dan pemanfaatan sumber daya yang tersedia. Salah satu yang sudah berjalan ialah budidaya pertanian padi organik yang dimulai dari 3 orang dan kini menjadi 9 orang. Mereka pun telah membangun relasi yang saling menguntungkan dengan konsumen di kota Palu.

Pelatihan jahe yang telah berlangsung ini juga merupakan wadah untuk memaksimalkan potensi yang ada. Mencoba merubah paradigma dari kelemahan menjadi keunggulan yang harus dimanfaatkan oleh seluruh anggota organisasi. Dari Ketidakberdayaan akibat kurang informasih menuju desa yang mandiri dan penuh inisiatif untuk kedaulatan dan kemandirian. (BW)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *