a2d3e7bc-2bdc-4a10-8900-a0c998b3da1a

Memetakan Potensi Wilayah Menuju Desa Maju dan Mandiri

Konawe Selatan (kpa.or.id) – Serikat Tani Konawe Selatan (STKS) menyelenggarakan pelatihan pemetaan partisipatif pada dari tanggal 12 hingga 16 September 2017 lalu. Pelatihan ini dilaksanakan di salah satu basis tani Serikat Tani Konawe Selatan (STKS), yakni UPT Arongo, Desa Laikandonga, Kecamatan Ranomeeto Barat, Konawe Selatan.

Tidak kurang dari 35 orang peserta yang terdiri atas delegasi perwakilan organisasi tani ranting STKS dan NGO yang berasal dari luar Konawe Selatan, yakni FORSDA. Dari hari pertama, para peserta diberikan materi oleh Syofyan Ubaidi Anom, salah satu Dewan Nasional KPA yang berasal dari Mojokerto, Jawa Timur. Ia juga dibantu oleh Torop Rudendi yang merupakan Korwil KPA Sultra.

Setelah selesai melakukan pemetaan, peserta juga langsung melakukan praktek pemetaan di dua desa, yakni Desa Laikandonga, Kecamatan Ranomeeto yang dimulai 19 September 2017 dan dilanjutkan di Desa Margacinta, Kecamatan Moramo pada tanggal 23 September 2017. Dua lokasi ditunjuk dikarenakan juga menjadi lokasi percontohan pelaksanaan Desa Maju Reforma Agraria (DAMARA).

Secara konsep, DAMARA merupakan gerakan menuju penguasaan teritorial yang dirumuskan melalui pengalaman-pengalaman KPA selama ini dan kemudian diinisiasi oleh rakyat secara masif dan terorganisir. Dalam hal ini adalah petani yang berjuang untuk mendapatkan kepastian alas hak atas tanah beserta akses reformnya dalam bentuk kedaulatan atas benih, ketersediaan pupuk, pengetahuan ketrampilan teknologi pertanian alami, akses permodalan dan jaminan harga serta akses pasar hasil komoditas produksi pertanian.

Desa Mandiri yang Berdaulat atas Wilayah

Pemetan partisipatif menjadi bagian dari salah satu alat strategis gerakan petani dalam rangka perjaungan hak atas tanah. Dalam tujuan yang lebih jauh pemetaan partisipatif merupakan langkah dalam mempertahankan wilayah (tenurial) petani yang ada di desa dan guna menganalisa potensi kekayaan agraria yang ada di sekitar ruang hidup petani berdasarkan data sosial (masyarakat dan sumber agrarian) dan data spasial (cakupan wilayah),” tutur Ubed.

Pemetaan partisipatif juga ditujukan agar petani mampu merencanakan sistem distribusi dan pemanfaatan tanah agar sesuai dengan peruntukkannya. Misalnya, alokasi tanah dalam suatu kawasan untuk pemukiman, tanah garapan individu petani dan tanah garapan untuk kolektif organisasi. Bahkan tanah yang diperuntukkan guna kepentingan umum dalam bentuk fasilitas umum dan fasilitas sosial. Selain itu pula menjadikan rujukan pola tata distribusi terkait dengan ketersediaan komoditas hasil pertanian, kemudian diseleraskan dengan akses pasar hasil produksi pertanian pangan yang berkelanjutan dan berkeadilan,” Sambungnya.

STKS menyadari betul bahwa pemetaan partisipatif menjadi sebuah kebutuhan organisasi. Pelatihan pemetaan partisipatif ini juga disinergikan dengan pelatihan kader reforma agraria. Mengingat potensi konflik agraria yang masih bergejolak dan belum ada upaya penyelesaian dari pemerintah, pemetaan wilayah menjadi alat tawar bagi petani.

Belum lagi dengan bagi potensi kekayaan agrarian yang dimiliki oleh desa. Hal ini saling bersahutan dengan kemauan yang sangat kuat oleh masyarakat dalam rangka mewujudkan desa yang berdaulat sesuai dengan Undang-Undang No. 06 tahun 2014 Tentang Desa.

Pemetaan ini sebagai jalan kita dalam rangka meyelesaikan konflik agraria yang masih terjadi hingga saat ini. Dengan adanya pemetaan ini, para petani diharapkan mampu membaca dan memaksimalkan potensi agraria yang tersedia dan dikelolah secara bersama-sama guna mewujudkan desa yang berdaulat dan sejahtera,” ucap Torop.

Sejauh ini, petani di dua desa di atas sebagian besar membudidayakan padi dan singkong, ditambah beberapa jenis umbi-umbian yang lain. Selain itu, mereka juga memelihara kambing dan sapi yang masih memakai sistem peternakan tradisional dengan cara dilepas ke padang-padang rumput yang tersedia di sekitar pemukiman.

Dengan pelatihan yang telah dilakukan, diharapkan petani mampu memaksimalkan potensi-potensi desa yang telah tersedia agar mampu menambah kesejahteraan bagi mereka secara bersama-sama. (BW)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *