Gambar 12

KPA Sulawesi Tenggara Gelar Pelatihan Praktek Penataan Produksi

Konawe Selatan (kpa.or.id) – Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) terus mengupayakan pelaksanaan inisiatif Desa Maju Reforma Agraria (DAMARA) melalui berbagai pendekatan dan pelatihan di beberapa lokasi basis serikat/organisasi tani anggota. Kali ini, pelatihan penataan produksi yang dihelat di Desa Margacinta, Kecamatan Moramo, Kabupaten Konawe Selatan. Desa Margacinta sendiri merupakan salah satu basis tani anggota Serikat Tani Konawe Selatan (STKS) yang merupakan salah satu serikat tani anggota KPA di Sulawesi Tenggara (Sultra).

Pelatihan yang digelar dari tanggal 15-17 Maret 2018 tersebut diikuti oleh beberapa petani dan pemuda tani dari basis-basis STKS yang tersebar di beberapa kecataman sekaligus Ujang Uskandiana selaku ketua. Selain itu, juga hadir salah satu Dewan Nasional KPA, Kisran Makati dan Kordinator KPA Sultra, Torop Rudendi.

Pelatihan ini difasilitasi langsung oleh Rudi Casrudi, Departement Penguatan Organisasi KPA. Dalam paparannya, Rudi menjelaskan tentang tata guna, tata kelola, dan tata produksi yang salah satunya mengenai praktek pembuatan kompos organik, arang sekam.

Dalam tata guna, tata kelola dan produksi, kita juga berbicara soal penyusunan dan perencanaan. Model-model produksi juga mengharuskan petani untuk menyusun rencana dalam bertani,” papar Rudi.

Rudi melanjutkan, model pertanian dapat dilakukan secara individu dan kolektif. Akan tetapi dalam banyak kasus, sistem pertanian individu lebih banyak membutuhkan biaya. Oleh karena itu,  sistem kolektif dapat lebih menguntungkan dibandingkan individu apabila petani bisa menerapkannya. Sistem Pertanian kolektif ini lebih efektif jika petani mengkehendaki 30 hektar lahan pertanian dikelola oleh 30 petani secara bersama,” lanjutnya.

Sistem pertanian kolektif akan mempertimbangkan jenis tanaman, waktu penggarapan, peruntukannya, siapa penggarapnya, modal, teknik produksi, sarana produksi, jadwal panen, dan penjualan, serta bagaimana petani kemudian mensiasati penjualan hasil melalui koperasi milik petani”, Rudi menegaskan.

Pada banyak kasus Petani di Indonesia, termasuk di Sulawesi Tenggara, petani selalu terjerat oleh jaring atau mata rantai yang tidak menguntungkan bagi mereka. Terdapat selisih biaya yang sangat jauh dalam proses distribusi hasil tani sehingga petani selalu mendapat harga jual yang sangat rendah. Posisi yang lemah dalam melakukan negosiasi (praktek jual –beli) membuat petani tidak berdaya dalam menentukan harga yang menguntungkan.

Kami sudah pernah mencoba untuk bernegosiasi langsung dengan distributor dan perusahaan jahe agar harga jual kami bisa tinggi, tapi ini juga tidak bisa menjawab, mereka tidak mau menyepakati harga yang kami kehendaki bahkan menegaskan jika kami tidak mau menjual jehe kami kepada mereka, silahkan! karena perusahaan dapat mengambil dari daerah lain,” ungkap Sumari, salah satu peserta pelatihan.

Kepala Desa Pudaria itu menceritakan bahwa perusahaan selalu menekan petani dengan dalih tingginya biaya untuk membawa hasil panen mereka.

Tidak hanya di kelas, pelatihan ini juga dilanjutkan dengan praktek pembuatan arang sekam yang juga dipandu langsung oleh Rudi.

 

Kontributor : Riyanda Purba

Editor : Benni Wijaya

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *