WhatsApp Image 2017-05-17 at 8.40.32 AM

KPA Resmikan TC Serikat Tani Konawe Selatan

Kendari (kpa.or.id) – Setelah memakan waktu beberapa bulan dalam proses pembangunan, akhirnya TC Serikat Tani Konawe Selatan (STKS) resmi dibuka oleh KPA, Rabu, (17/5)

Peresmian ini langsung dihadiri oleh Sekjend KPA, Dewi Kartika yang langsung melakukan proses simbolis gunting pita sebagai penanda diresmikannya TC tersebut.

Turut hadir beberapa rombongan diantaranya tim seknas KPA, perwakilan KSP, Usep Setiawan, DN KPA, Kisran Makati , Korwil KPA Sultra, Torop Rudendi,  Korwil KPA Sulsel, Risky Arimbi, Ketua Serikat Tani Sulawesi Utara, Simon Aling, Pengurus STKS dan pimpinan ranting STKS beserta anggota yang berjumlah sekitar 500 orang. Termasuk kepala UPT dan beberapa kepala desa.

Peresmian ini berlangsung pasca diselenggarakannya konsolidasi lokasi prioritas dan lokakarya percepatan pelaksanaan reforma agraria di region Sulawesi yang dilangsungkan dua hari sebelumnya di Kendari.

TC yang dibangun oleh KPA ini berlokasi di UPT Arongo, Desa Laikandonga, Kecamatan Landono, Konawe Selatan, Sultra. Di mana warga UPT Arongo yang saat ini tergabung dalam STKS merupakan transmigran yang sejauh ini belum mendapati hak mereka berupa lahan masing-masing 2 hektar yang telah dijanjikan.

Acara yang berlangsung selama sehari tersebut di awali dengan proses gunting pita yang langsung dilakukan oleh Sekjend KPA, Dewi Kartika. Setelah peresmian, acara dilanjutkan dengan sesi dengar pendapat di sekretariat STKS antara KPA, KSP dan  para petani yang bermukim di lokasi transmigrasi.

Seterusnya, ada Simon Aling yang bercerita tentang perjuangan petani di Sulawesi Utara. Kemudian, Sukinan dari PPAB Blitar, Jawa Timur yang pada kesempatan tersebut mencoba menceritakan pengalaman petani Aryo Blitar dari mulai perjuangan mereka dalam merebut hak atas hingga berhasil membangun sistem ekonomi kolektif.

Pusat Pelatihan dan Pendidikan Desa Maju Reforma Agraria

Pada Musyawarah Nasional KPA tahun 2013, dicanangkan bahwa ke depan KPA mempunyai mandat untuk membangun desa-desa maju yang mandiri dan berdaulat atas wilayah mereka sendiri sebagai suatu cita-cita organisasi.

Cita-cita ini dinamakan sebagai Desa Maju Reforma Agraria (DAMARA). Damara lahir dari kekhwatiran yang muncul dari beberapa pengalaman selama ini, di mana fenomenanya hampir semua gerakan agraria itu muncul akibat adanya kesamaan kepentingan di antara petani yakni perjuangan untuk merebut hak atas tanah.

Dikarenakan kepentingan mereka hanya dalam persoalan untuk merebut kembali hak atas tanah tersebut. Maka setelah berhasil, tidak ada jaminan bahwa organisasi atau perjuangan petani akan terus berlanjut sehingga rentan melahirkan konflik-konflik baru diantara sesama mereka

Sedangkan di sisi lain, desa sebagai pusat gerakan agraria selama ini adalah wilayah yang memiliki potensi besar secara sosial, ekonomi, budaya dan politik apabila bisa dikembangkan dengan baik dan telaten.

Untuk menuju ke sana, KPA telah memulai beberapa langkah, salah satunya dengan menunjuk beberapa wilayah konflik sebagai lokasi percontohan damara di mana salah satunya ialah UPT Arongo yang berada di desa Laikandonga ini.

Jalan menuju damara tidak bisa ditempuh secara instan. Mewujudkan sebuah desa maju, mandiri dan berdaulat, tidak hanya meliputi semata meningkatkan produktivitas usaha pertanian di pedesaan.

Upaya yang dilakukan mesti melingkupi upaya penataan produksi pertanian termasuk peternakan secara kolektif, dengan penggunaan teknologi, benih/bibit, pupuk yang selaras alam, serta keberagaman sumber pangan, keadilan akses atas pangan dengan mempertimbangkan pola produksi dan konsumsi setempat. Beberapa faktor ini juga harus diperkuat dengan penguasan pengetahuan dan keterampilan para petani.

Selain penguatan-penguatan di atas, pentng juga agar pejuang-pejuang agraria maupun serikat-serikat tani mampu membaca peluang-peluang politik agar bisa  dimanfaatkan demi mempercepat terlaksananya reforma agraria.

Peluang politik yg tersedia tidak akan menjadi hal yang bermanfaat jika tidak ada desakan dari serikat tani. Oleh karena itu, ke depan, STKS harus menjadi organisasi yang kuat dan solid. Di samping itu, kita bertekad untuk menjadikan UPT Arongo sebagai lokasi percontohan Desa Maju Reforma Agraria (DAMARA) untuk lokasi transmigrasi, Ujar Dewi Kartika di sela-sela kata sambutannya.

Sementara kedatangan Usep Setiawan sebagai salah satu perwakilan pemerintah coba dimanfaatkan oleh warga terutama terkait persoalan proses transmigrasi yang belum terselesaikan hingga saat ini.

Menanggapi pertanyaan warga, Usep mengatakan bahwa dirinya akan menyampaikan aspirasi para petani kepada Presiden.

Kami di KSP sudah mengantongi beberapa dokumen bukti penguasaan tanah serta laporan tindakan perampasan tanah yang terjadi di lokasi transmigrasi UPT Arongo ini. Berkas tersebut nanti akan kami gunakan sebagai bahan pertimbangan dalam penyelesaian konflik,” tegas Usep.

Di akhir rangkaian kegiatan, Dewi kembali menyemangati anggota STKS dan memberikan beberapa arahan terkait apa yang harus dilakukan ke depan dalam rangka mengambil peluang kebijakan reforma agraria. (AL)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *