Gerakan Ekonomi Solidaritas Lumbung Agraria

-

Penulis : Rizki

Kolaborator : Ajja

terbit tanggal : 20 Nov 2022

-

 Dengan semangat menyatukan solidaritas sosial dan ekonomi kerakyatan, KPA bersama Organisasi Rakyat terus membesarkan gerakannya melalui pembangunan aliansi strategis dengan serikat-serikat buruh,organisasi masyarakat adat dan lintas gerakan lainnya. Gotong-royong pangan yang sehat dan ekonomis melalui Gerakan Ekonomi Solidaritas Lumbung Agraria (GESLA) adalah praktik konkrit bagaimana memutus rantai produksi dan distribusi yang panjang dan tidak adil. GESLA dikembangkan agar petani dan nelayan sebagai produsen pangan yang utama dapat tehubung langsung dengan gerakan buruh dan kelompok rentan di perkotaan sebagai konsumen prioritas Gerakan Reforma Agraria.

GESLA  yang awalnya merupakan Gerakan Solidaritas Lumbung Agraria (GeSLA) lahir dari respon atas krisis multidimensi sebagai dampak dari pandemi Covid-19 yang muncul sejak akhir 2019. Di mana saat itu para buruh tidak hanya terancam kehilangan pekerjaan (PHK), namun juga kesulitan mendapatkan pangan sehat yang terjangkau. Sementara di sisi lain, para petani dan produsen pangan di kampung dan desa-desa kesulitan 

Dalam situasi normal, Lumbung Agraria sendiri merupakan badan usaha ekonomi (koperasi) KPA yang bekerja mendistribusikan dan memasarkan hasil-hasil produksi pangan petani dan serikat anggota kepada masyarakat luas dengan prinsip-prinsip keadilan, solidaritas, kemandirian dan keberlanjutan. Anggota KPA, organisasi tani dan masyarakat adat selama ini telah mengembangkan konsep pembangunan baru berbasis agraria melalui Desa Maju Reforma Agraria (Damara). Damara ini mempraktekan model-model reforma agraria tingkat desa dan kampung berdasarkan inisiatif masyarakat di bawah. Dari mulai penguasaan, penggunaan dan pengusahaan tanahnya, usaha produksi, distribusi dan konsumsi ditata ulang dan/atau diperkuat dalam semangat Damara. 

Khusus menghadapi dampak luas darurat kesehatan, Lumbung Agraria menggagas GeSLA Atasi Covid-19 untuk; menjalankan aksi solidaritas antara desa dengan kota, salah satunya dengan mendukung ketersediaan stok pangan komunitas rentan di perkotaan menghadapi dampak pandemik. 

Ada 5 (lima) skema dukungan (aksi) yang digagas dan dijalankan GeSLA atasi Covid-19 selama masa krisis pandemi ini, yaitu: 

Pertama, aksi donasi pangan dari petani. Melalui seruan solidaritas, serikat tani Anggota KPA di Jawa Barat misalnya, dalam dua minggu terakhir ini telah menyisihkan sebagian hasil panennya untuk dialirkan ke Lumbung Agraria sebagai bentuk solidaritas petani untuk diberikan secara gratis langsung kepada komunitas yang rentan terdampak krisis ekonomi akibat Covid-19, seperti jaringan buruh, pekerja sektor informal dan masyarakat miskin kota. 

Kedua, aksi pangan sehat dan ekonomis. Ini adalah aksi ekonomi berbasis keswadayaan rakyat, yaitu bekerja menghubungkan antara produsen pangan skala kecil (petani, organisasi tani lokal, serikat) dengan konsumen prioritas. Konsumen prioritas saat ini adalah buruh, miskin kota, nelayan dan pekerja informal yang rentan terdampak Covid. Menghubungkan langsung rakyat ke rakyat, produsen petani ke konsumen prioritas, ini menjadi cara efektif memutus mata rantai distribusi pangan yang panjang berbiaya tinggi, yang selama ini rantai distribusinya dikuasai tengkulak, para spekulan, dan distributor besar. 

Dengan kata lain, Lumbung Agraria menyerap produk pangan, termasuk hasil olahannya dari basis-basis Anggota KPA dengan harga yang berkeadilan, mengusahakan stabilitas nilai jual petani sesuai ongkos produksi dan margin kesejahteraannya, kemudian memasarkannya kepada simpul-simpul organisasi buruh dan komunitas masyarakat miskin kota dengan harga yang ramah krisis. Khusus di masa Covid ini, GeSLA juga berperan menjaga stabilitas harga jual-beli, baik di tingkatan petani (produsen) maupun di tingkatan konsumen prioritas. Fluktuasi harga jual di tingkatan petani makin yang tidak pasti, banyak harga anjlok untuk beberapa komoditas pangan, sementara daya beli juga sedang turun, maka GeSLA memberikan insentif untuk memangkas harga jual, sehingga harga tetap dirasakan ekonomis oleh konsumen prioritas. 

Ketiga, Aksi Donasi Publik Gotong-Royong Bersama Petani. KPA juga membuka donasi bagi publik luas yang ingin bersolidaritas, tergerak untuk bergabung dengan inisiatif GeSLA Atasi Covid-19 ini melalui donasi uang, alat kesehatan (masker, hand sanitizer, dll), untuk didistribusikan kepada petani, masyarakat adat, nelayan dan pangan untuk buruh dan kelompok rentan perkotaan lainnya. 

Keempat, Aksi Jaga Desa-Kota Memutus Rantai Penyebaran Corona. Selain mendistribusikan pangan sehat, GeSLA bersama Tim Respon Darurat KPA membantu memobilisasi dukungan kesehatan seperti masker kain, hand sanitizer, desinfektan, panduan mitigasi resiko kesehatan untuk petani, komunitas adat, nelayan, dan kelompok rentan, termasuk memastikan kesehatan Anggota dan Pengurus KPA di berbagai provinsi. Inisiatif ini juga menjadi bagian dari memperkuat ekonomi lokal, seperti mendorong para penjahit rumahan yang mengalami penurunan pendapatan untuk membuat masker kain. 

Kelima, Aksi Barter Pangan Nelayan-Petani. Di samping membangun aksi pangan sehat guna memutus rantai distribusi yang panjang dan berbiaya tinggi, KPA juga menginisiasi gerakan barter pangan antara beras dari petani dengan hasil olahan ikan nelayan sebagai bentuk gerakan gotong-royong antara petani dan nelayan dalam menghadapi krisis multidimensi akibat Covid-19.

Keenam, Aksi Membangun Rumah Pangan Mandiri untuk Komunitas Urban. Meski aksi solidaritas terus mengalir dari wilayah pedesaan untuk komunitas rentan di perkotaan. Di sisi lain, diasadari hal tersebut belumlah mampu menjawab tantangan jangka panjang ketahanan pangan masyarakat perkotaan, sehingga diperlukan strategi untuk menjawab situasi tersebut. Karena itu, KPA bersama Institute Agroekologi Indonesia (INAgri) mengagas Gerakan Rumah Tangga Mandiri Pangan di wilayah perkotaan. Rintisan ini diterapkan dengan memberikan bantuan “paket paket berkebun ekologis bagi warga urban terdampak COVID-19.

Share