You are here:  Home

Dialog Interaktif Suara Pembaruan Agraria, Radio Republik Indonesia

Simaklah dan partisipasilah dalam siaran on air dialog interaktif “Suara Pembaruan Agraria” KPA - RRI dengan T...
Read More...

Tumpang Tindihnya Kebijakan Agraria Nasional

Meskipun UUPA tahun 1960 masih berlaku, dalam kenyataan undang-undang yang dianggap sebagian besar pengamat pro ra...
Read More...

Konsolidasi Ormas Petani untuk Pembaruan Agraria

  Setelah Suharto tidak berkuasa, memang banyak tumbuh organisasi tani dalam sebuah gerakan, namun kondisi gera...
Read More...

RUU Pengadaan Tanah, Bukan Untuk Rakyat Miskin

Laporan; Kent YusriansyahSetelah berhasil menetapkan arah pembangunan dengan National Summit  pada ...
Read More...

Sudahi Politisasi Petani
 
Active Image

Usep Setiawan*

Riak-riak tak sedap mencuat dalam Musyawarah Nasional VII Himpunan Kerukunan Tani Indonesia, Bali, 12-15 Juli 2010. Alih-alih berhasil merumuskan agenda nyata bagi petani, munas ini terjebak pertarungan elit dalam perebutan posisi puncak organisasi.

 

Sejauh ini, Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) dikenal sebagai organisasi massa tani yang dibentuk di era Orde Baru dengan misi terselubung untuk mengontrol dan mengendalikan gerakan tani. Dulu, HKTI jadi organisasi tunggal petani Indonesia. Tak boleh ada organisasi lain selain HKTI. Petani diorganisir untuk dikuasai, bukan dicerdaskan dan dibebaskan.

 

Setelah Soeharto tumbang, kiprah HKTI kian politis. Belakangan ormas ini cenderung jadi kendaraan politik dari elit ekonomi-politik yang mengatas-namakan petani untuk mencapai tujuannya sendiri. Contoh yang benderang, pencalonan Ketua Umum HKTI dalam jabatan politik tertinggi pemerintahan melalui Pemilu 2004 dan 2009.

 

Dampak lebih jauh petualangan politik para elit, HKTI kian terpasung sebagai organisasi “atas nama” petani. Sulit dibantah, HKTI bukanlah ormas tani sejati. Mayoritas pegiatnya bukanlah petani sebenarnya. Amat jarang pimpinan yang berasal dari petani. Pengurusnya sebagian besar bukanlah petani. Petani hanya dipinjam namanya dan diatas-namakan kepentingannya untuk kepentingan lain, di luar kepentingan petani.

 

HKTI kerap digunakan sebagai kendaraan atau alat kaum elit untuk mencapai tujuan-tujuan bermotif ekonomi maupun politik elit yang tak mesti sejalan dengan tujuan perjuangan petani. Selama ini, eksistensi HKTI yang membawa nama besar petani, tapi tingkah polahnya tak selalu mencerminkan gambaran sebagai wadah perjuangan petani.

 

Diakui atau tidak, HKTI barulah sebagai ormas tani seolah-olah. Seolah-olah ormas tani. Disinyalir, gerak-geriknya pun kerap tak sebangun dengan kepentingan nyata petani.

 

Perlu transformasi

Jika menemukan peran sejarahnya secara signifikan, tak ada pilihan lain kecuali HKTI harus merumuskan ulang jati dirinya. Tersedia pilihan, apakah akan tetap jadi seperti selama ini –ormas atas nama sekaligus kendaraan politik elit yang mengatas-namakan kepentingan petani? Ataukah mau bertransformasi jadi ormas tani sejati. Jika pilihan kedua yang diambil, ada sejumlah prasyarat yang tak mungkin dielakkan. Kepemimpinan ormas tani mestilah diisi figur yang memiliki rekam jejak yang cemerlang sejak dalam pikiran, perkataan maupun perbuatannya dalam memperjuangkan hak-hak petani.

 

Selain itu, secara kelembagaan ormas tani juga mestilah mampu merumuskan agenda dan program perjuangan yang benar menyentuh kepentingan dan kebutuhan kaum tani. Misalnya, jika ormas tani menyadari problem petani yang pokok ialah ketidakadilan agraria, maka reforma agraria sebagai jawaban harus jadi agenda utama perjuangannya.

 

Aneka program pun mestilah lebih membumi sehingga menyentuh kebutuhan dasar petani. Hak ekonomi, sosial dan budaya petani penting diterjemahkan ke dalam program kerja nyata. Jika reforma agraria jadi agenda utama, maka landreform yang bermakna perombakan struktur pemilikan, penguasaan dan pemanfaatan tanah secara berkeadilan harus jadi program pokok perjuangan petani Indonesia.

 

Cermin kesejatian

Lebih lanjut, struktur organisasi dan kepengurusan pun hendaknya direformulasi agar lebih mencerminkan kesejatiannya. Masuknya kader-kader petani dan pemimpin dari kalangan petani sendiri ke dalam struktur pengurus di berbagai level akan jadi indikator penting dalam mengukur legitimasi sosial ormas tani.

 

Jika di masa lampau ormas tani diisi wajah-wajah nirpetani dan tak punya jalan hidup yang menandakan kesungguhan dalam memperjuangkan hak petani, maka ke depan sosok baru dari kalangan gerakan petani sendiri yang sepantasnya memimpin ormas tani. Pengurus dan anggota ormas tani jangan hanya petani berdasi, melainkan mencakup pula dan terutama petani miskin, yang berlahan sempit atau tunalahan sama sekali.

 

Inilah sejumlah tantangan mendasar. Sayangnya penulis tak begitu yakin solusinya terfasilitasi penuh oleh Munas VII HKTI ini. Apabila ternyata masih jauh panggang dari api, dan orang-orang dalam HKTI masih merasa nikmat dengan realitas sekarang, maka amat beralasan bagi kita terutama kaum tani Indonesia untuk berseru: selamat tinggal HKTI!

 

Tantangan selanjutnya ialah bagaimana melahirkan kelembagaan alternatif petani yang secara sosial, ekonomi dan politik lebih murni mewakili kepentingan petani. Petani perlu wadah yang sanggup menaungi dan memperjuangkan kepentingannya di tingkat lokal, regional hingga nasional, bahkan internasional secara hakiki minus politisasi.

 

Dari ribut-ribut perebutan posisi kunci di ormas tani yang sesungguhnya tak sejati, inilah saat bertindak menyudahi politisasi petani demi syahwat elit.

 

Politik petani ialah politik kebangsaan yang memampukan dirinya berdiri di atas kaki sendiri. ***

 

*Penulis Adalah Ketua Dewan Nasional KPA (Konsorsium Pembaruan Agraria)

Sumber: Kompas, 16 Juli 2010, halaman 6

   

Users' Comments  
 

Average user rating

   (0 vote)

 


Add your comment

No comment posted



mXcomment 1.0.8 © 2007-2010 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved
Berikutnya >

Sudahi Politisasi Petani
Usep Setiawan* Riak-riak tak sedap mencuat dalam Musyawarah Nasional VII Himpunan Keruku...
“Quo Vadis” Peran Keagrariaan Perguruan Tinggi?
Sinar Harapan Sabtu, 19 Juni 2010 Oleh: Usep Setiawan*   Salah satu kekuatan ...
Mencegah Diskriminasi Petani di Ladang Pangan
Oleh: Usep Setiawan Dalam beberapa hari ini, Kementerian Pertanian membuat heboh. ...
Refleksi Hari Pertanian Internasional: Kiat Mengakhiri Kontroversi “Food Estate”
  Oleh: Usep Setiawan Dunia pertanian, ag­raria, dan ling­kungan di dunia kini seda...
Agar Ketahanan Pangan Berbasis Rakyat
(Catatan Proses dan Hasil Dialog Pokjasus PKPM dengan Menteri Pertanian RI) Disusun Oleh: Tim P...
Food Estate; Imperealisme Agrobisnis
Swasembada pangan menjadi salah satu program prioritas kabinet pembangunan  jilid-II. Tak tangg...
Regulasi Baru Tanah Telantar
Oleh: Usep Setiawan Sinar Harapan: Rabu, 10 Maret 2010 13:59 Ada kabar baik yang tak tersiarkan s...
Resolusi Munas V KPA
Resolusi Musyawarah Nasional V Konsorsium Pembaruan Agraria: ”Pembaruan Agraria adalah Jalan Menuju Keadilan dan Kemakmuran”  Dunia pada saat sekarang tengah menghadapi krisis pangan, energi dan lingkungan yang sangat hebat. Ratusan juta orang diberbagai negara sudah mengalami kelaparan dan ke depan lebih terancam lagi oleh ketiadaan pangan karena monopoli penguasaan tanah dan pangan. Krisis di tiga lapangan ini semakin bertambah dalam akibat pukulan krisis keuangan yang melanda Amerika Serikat sebagai induk dari imperialisme yang pada akhirnya secara beruntun gelombangnya menerpa n...
Siaran Pers Barsama WALHI, ICW, Kontras, KPA, JKPP, AGRA, ICEL, SPI, KIARA
Protes Atas Kegagalan Pemerintah Dalam Menciptakan rasa Aman Dalam Sistem DemokrasiBelum hilang dari ingatan, tentang tindakan keji Kepolisian di Riau saat peristiwa penembakan warga Kuan...
Siaran Pers KPA : Segera Jalankan PP Penertiban dan Pendayagunaan Tanah Terlantar
Tanah Terlantar Untuk Rakyat Miskin PP No.11/2010 tentang Penertiban dan Pendayagunaan Tanah Terlantar yang telah ditetapkan pemerintah belum dijalankan namun telah mendapat penolakan ke...
Siaran Pers Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) Nomor 019/Press Release-KPA/V/2010
Pernyataan Sikap KPA Atas Penangkapan Aktivis oleh Polisi dan Perampasan Tanah Masyarakat oleh PT. Arga Morini Indah (AMI)  di Kec. Telaga Raya, Kab. Buton, Sulawesi TenggaraTambang ad...
Pernyataan Sikap Koalisi Rakyat Bubarkan Perhutani
Kecaman Atas Tudingan Perambah dan Perusak Hutan oleh Kepala Dinas Kehutanan Jawa Barat Terhadap Serikat Petani Pasundan (SPP)   Kami Perwakilan Organisasi Masyarakat Sipil ya...
Siaran Pers Nomor 018/Press Release-KPA/IV/2010
Sikap KPA atas Rencana Menteri Pertanian Mengeluarkan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) tentang Pedoman Perizinan Usaha Budidaya Tanaman Pangan ...
Pemerintah ajukan RUU Pembebasan Tanah
Jumat, 20 Agustus 2010 JAKARTA. Lambatnya pembebasan tanah selalu menjadi ganjalan untuk memulai proyek infrastruktur pemerintah. Walhasil, sejumlah proyek pun terpaksa mangkrak dan...
Polisi Bantah Tembak Dua Warga Jambi
JAMBI, KOMPAS.com — Dua warga Desa Senyerang, Kecamatan Senyerang, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi, tertembak peluru karet yang diduga dilakukan oleh aparat Kepolisian Resor Tanjung Jabun...
Komnas HAM Didesak Awasi Penangkapan Massal di Buton
Laporan Tribunnews.com, Willy WidiantoTRIBUNNEWS.COM, JAKARTA- Sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang terdiri dari Walhi, Kontras, LMND, Konsorsium Pembaruan Agraria dan Sarekat Hijau Indone...
Pemerintah Dinilai Gagal Perbaiki Nasib Petani
Penulis : Priyasma Alexander BANDUNG--MI: Ribuan petani yang tergabung dalam Serikat Petani Pasundan (SPP) mencemooh kinerja pemerintahan pacareformasi yang dinilai tidak mampu memperbaiki keseja...
Serikat Petani Pasundan Tuntut Kadishut Jabar Mundur
Kamis, 20 Mei 2010 10:47 WIB  BANDUNG--MI: Ribuan orang dari Garut, Ciamis, Bandung, dan Sumedang yang tergabung dalam Serikat Petani Pasundan (SPP) menggelar aksi unjuk rasa menuntut agar K...
share on facebook 

LOGIN FORM






Lupa Kata Sandi?
Belum memiliki akun? Daftar

Jajak Pendapat

Yakinkah anda, Kesejahteraan Petani Akan Mengalami Kemajuan Dalam 5 Tahun ke Depan?
 

Status Online

Saat ini adai 3 tamu-tamu online
Hari Ini182
Kemarin256
Seminggu1516
Sebulan3276
Total294447

Berita Terkini

Stop
Play
  • Dialog Interaktif Suara Pembaruan Agraria, Radio Republik Indonesia Simaklah dan partisipasilah dalam siaran on air dialog interaktif “Suara Pembaruan Agraria” KPA - RRI dengan Topik “Bercermin dari Kasus Agra...
  • Menuju Konferensi Nasional Reforma Agraria (KNRA) 2009 Tanggal 20-22 Juni 2009 mendatang, sejumlah Organisasi Rakyat dan NGO di Indonesia akan menggelar Konferensi Nasional Reforma Agraria (KNRA) 2009 di Kampus Institut Pertanian Bogor (IPB). Konferen...
  • Refleksi Gerakan Agraria Jawa Barat KPA News - Jawa Barat merupakan wilayah dengan persoalan agraria yang cukup kompleks. Konflik agraria terus terjadi seiring dengan intensitas pembangunan. Konflik agraria ini merupakan cerminan da...
  • Berita Aksi Petani Jawa Barat, 19 Juni 2007 Aksi 15.000 Petani Menuntut Dilibatkan Dalam Program Pembaruan Agraria Nasional “KITA datang di sini bukan untuk mengumpulkan kemarahan, bukan datang untuk mengumpulkan kebencian, tetapi kita datang untuk menunjukkan bahwa di Jawa Barat ini ma...

Sumatra Selatan

Pekerja PTVN VII Dipersenjatai Kayu
BANYUASIN-Aksi demontrasi yang dilak...

Sumatra Utara

Tindakan Arogan PTPN II; Kesaksian Petani BPRPI
Nukman Hakim Lubis (45) pengelola la...
Pernyataan Sikap
“Masyarakat Pergulaan Menolak ...

Bengkulu

23.810 Persil Sertifikat Tanah Dibagikan
Sebanyak 23.810 persil sertifikat ta...
Revitalisasi Perkebunan Segera Dilaksanakan
Program revitalisasi perkebunan yang...

Jawa Tengah

Sengketa tanah GG di Wonosobo
Salah satu kasus sengketa tenurial d...
Tak Cukup Hanya dengan Tanah
Luas Jawa Tengah yang mencapai 3,2 j...

Jawa Timur

BPN Pusat Kaji Pengajuan PK
KEDIRI - Ribuan warga tiga desa, Sem...
Tak Patah Arang FPR Pacet Terus Berjuang
Perjuangan merebut hak atas tanah ol...

Sulawesi Selatan

Eksekusi Berakhir Bentrok, Polisi Dimolotov
Eksekusi lahan seluas 4.339 meter pe...

Jambi

Sulawesi Tengah

Lampung